Ganti Tubuh (Part I)

                  Aku Ellenoir. Mungkin bisa dikatakan aku termasuk segelintir wanita yang tidak bersyukur dengan keadaan fisikku. Aku benci setiap inchi dari tubuhku. Badanku gendut dan aku tidak cantik. Sudah gendut, aku tidak tinggi pula. Hal itu membuatku terlihat bantet atau cebol, seperti kurcaci. Pantatku besar dan membuatku tidak percaya diri saat berjalan, karena ketika aku berjalan maka pantatku yang besar dan tidak indah itu akau bergoyang-goyang mengikuti langkahku. Sangat memalukan. Walaupun beberapa orang sering mengatakan bahwa aku ini lucu dan imut, perkataan-perkataan itu nyatanya tidak membuat rasa minder dan ketidakbersyukuranku berkurang. Malah terkadang aku memaki orang-orang tersebut dalam hati, karena menurutku mereka mengatakan itu agar aku tidak terlalu kecewa dengan bentuk fisikku.

                Keadaan fisik yang tidak memuaskan ini membuatku sulit disukai oleh anak laki-laki. Bukan sulit, malah tidak pernah. Bahkan, sering terjadi penolakan-penolakan dari para lelaki yang membuatku sakit hati dan kecewa. Sebetulnya, penampakanku yang tidak cantik ini kadang membuatku sulit berinteraksi dengan laki-laki. Jangankan sekedar ngobrol, bertemu mata dengan mata saja aku sudah gugup dan memilih untuk memalingkan wajah.

                Berbeda dengan Hani, sahabatku. Hani sangat cantik dan tinggi. Wajahnya tirus, hidunya tipis dan mancung, bulu matanya pun lentik. Bibirnya merekah dan merah muda alami. Rambutnya panjang, lurus, dan lembut. Jika angin menyapa rambutnya, maka rambutnya akan berkibar dengan indahnya. Pokoknya dia adalah seorang primadona. Setiap dia berjalan dengan gayanya yang khas, para lelaki akan menatapnya kagum, tersenyum manis padanya, dan mencari cara untuk mendapat perhatiannya. Sungguh hal-hal yang tidak pernah aku dapatkan selama 17 tahun aku hidup.

                Suatu saat aku dan Hani membuat janji untuk menonton film korea bergenre romantis terbaru di rumahku. Hari itu malam minggu dan kebetulan orang tuaku tidak akan ada di rumah selama beberapa hari. Jadi aku ajak Hani untuk sekalian menginap di rumahku. Hani bilang ia akan sampai di rumahku pukul 20.00 WIB. Sekarang masih pukul 19.25 WIB. Wumpung masih lama, aku akan menyiapkan segala sesuatu terlebih dahulu. Aku bersihkan ruang tamu dengan penyedot debu. Kemudian, aku merapikan bantal-bantal yang berantakan di atas sofa ruang tamuku. Aku ambil DVD yang akan kami tonton. Lalu aku tuangkan popcorn yang aku beli tadi siang ke mangkuk merah muda kesayangan ibuku. Dan, selesai. Aku siap menonton. Beberapa saat kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Itu pasti Hani, pikirku. Aku pun bergegas menuju pintu dan membukakannya. Ternyata benar, itu Hani.

                “Hai, Han!” sapaku dengan riang. “Sini masuk! Aku udah nungguin kamu”.

                Hani mengenakan kaos putih polos yang sangat ketat dan celana jeans ¾ malam itu. Seperti biasa, dia terlihat mempesona. Aku pun sudah tidak kaget dengan kecantikannya itu. Sebelum menuju ruang tamu untuk menonton, aku antarkan Hani ke kamarku terlebih dahulu untuk menaruh barang-barangnya. Dia hanya membawa satu tas ransel saja, karena dia juga hanya akan menginap selama dua hari satu malam. Segera kami menuju ke ruang tamu dan bersiap-siap menonton. Aku mengambil DVD dan memasangnya. Lalu menyalakan TV. Film pun dimulai.

                “Nih, popcorn!” kataku sambal menyodorkan popcorn.

        “Wah, udah prepare banget, ya!” katanya sambil mengambil satu buah popcorn dan memasukkannya ke mulutnya.

                Film yang kami tonton ini menceritakan seorang gadis cantik yang miskin yang kemudian disukai oleh seorang laki-laki yang sangat kaya raya. Begitulah. Walaupun miskin, tetap saja ada laki-laki yang naksir karena dia cantik. Enak sekali ya jadi wanita cantik.

                “Enak ya cewek itu. Walaupun miskin, tapi dia cantik. Jadi banyak cowok yang naksir,” celetukku tiba-tiba. Hani hanya diam. Tidak merespon celetukanku dan masih sibuk menonton. “Kamu beruntung lho, Han! Kamu dilahirkan sebagai cewek yang cantik. Jadi, hidup kamu tidak repot untuk mencari-cari cowok. Tinggal pilih aja,” lanjutku lagi.

                Mendengar perkataanku yang demikian, Hani menatapku tajam. Ia mengernyitkan dahinya dan sedikit mencondongkan wajahnya ke wajahku. “Kamu gila?” Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Aku sedikit terkejut dengan responnya.

                “Gila gimana maksud kamu? Enggak lah!”

                “Ell, jadi cewek cantik itu enggak seenak yang kamu bayangkan.”

          Aku tersentak dengan perkataannya. Apa maksudnya ? Kenapa dia tidak mensyukuri kecantikan yang dia miliki ? Aku saja iri setengah mati dengan bentuk dan lekukan tubuhnya serta wajahnya yang sangat sempurna. Aku tidak mengerti.

                “Cantik itu merepotkan dan serba salah. Aku harus jaga image. Tersenyum dan ramah kepada semua orang. Harus jadi baik dan menyenangkan. Lagian aku benci dengan tatapan anak cowok yang mengarah kepadaku setiap aku berjalan. Itu menjijikan. Hal itu membuat aku risih. Aku tidak pernah suka dengan bentuk fisikku dan fakta bahwa aku dilahirkan sebagai cewek cantik. Aku ingin sepertimu saja. Kamu lucu dan imut. Kamu juga disukai banyak orang.”

                Jedarrrr!!! Itu bagai petir yang menyambarku. Apa-apaan orang ini, pikirku. Dia bilang dia ingin sepertiku ? Yang benar saja. Dia belum mengerti apa pun soal menjadi wanita jelek, gendut, dan tidak pernah dilirik oleh laki-laki. Sungguh jalan pikiran yang sangat aneh.

                “Kamu tidak tau apa pun soal menjadi cewek jelek, Han.”

                “Well, let me know, Ell!”

                “Kamu tidak akan mau, setelah kamu ngerasain.”

                Setelah itu, tidak ada perbincangan apa pun antara aku dan Hani. Kami sibuk menonton sampai film tersebut habis. Ending-nya, cewek cantik tadi menikah dengan cowok tampan yang kaya raya. Sungguh akhir yang menyenangkan dan sangat diharapkan penonton. Aku menguap dan mengucek mataku karena mulai mengantuk. Ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 22.45 WIB. Aku segera mengajak Hani tidur. Kami pun beranjak dari sofa dan menuju ke kamarku. Ku rebahkan tubuhku ke kasurku yang lembut dan empuk. Ku biarkan kasurku memelukku hangat. Hani pun begitu. Ku ambil telepon genggamku dan melihat beberapa berita atau iklan di sebuah media sosial yang aku punya sebelum aku tidur. Ada sebuah iklan yang sangat aneh. Begini bunyinya :

Benci dengan bentuk tubuhmu ? Ganti saja dengan bentuk tubuh yang kamu inginkan ! Download aplikasinya segera di Orange Store !

                Karena penasaran, maka ku download saja aplikasi aneh itu. Nama aplikasi tersebut adalah “Ganti Tubuh”. Iseng sekali orang ini membuat aplikasi bohongan semacam ini, pikirku. Tak lama, muncul notifikasi bahwa download sudah selesai. Icon aplikasi itu bulat dan terdapat gambar wanita dengan tubuh ideal di tengahnya. Ku buka aplikasi tersebut. Kemudian, pada menu awal aku harus melakukan pendaftaran untuk membuat akun dan menyetujui syarat serta ketentuan berlaku yang tidak aku baca sepenuhnya. Lalu, aku harus memasukkan fotoku. Dan yang terakhir, aku harus memasukkan foto seseorang yang aku inginkan untuk menjadi tubuhku yang baru. Dengan isengnya, aku mencari foto Hani dan memasukkan fotonya. Selesai. Kemudian, aku klik Submit. Muncul halaman loading yang lumayan lama. Setelah itu muncul sebuah kotak dialog yang berbunyi “Selamat menikmati tubuh baru Anda!”. Aku sedikit terkekeh dengan hal itu. Lucu sekali orang-orang sekarang. Mana coba ? Aku masih dengan tubuhku yang jelek ini. Ku lihat Hani sudah tertidur pulas di sebelahku dan dia juga masih dengan tubuhnya yang sama. Sungguh penipuan. Aku bisa saja melaporkan hal ini.


Akhirnya, ku letakkan telepon genggamku di atas meja sebelah kasurku. Perlahan mataku menutup dengan sendirinya dan aku pun tertidur pulas. 

Komentar