Hidup untuk Mati ?

Papa selalu bilang "Hidup itu untuk mati. Tetapi antara hidup dan mati itu apa saja sih yang sudah kita lakukan? Apakah itu berguna dan bermanfaat bagi diri kita atau orang lain?". 

Hidup ini hadiah. Orang kalau dapet hadiah umumnya pasti disayang-sayang, bukan ? Dijaga dan dirawat sebaik-baiknya agar tidak rusak. Seharusnya, jika kita memandang hidup ini adalah sebuah hadiah, maka kita akan merawat dan menjaga kehidupan kita sebaik-baiknya. Seharusnya kita tidak mencemarkan kehidupan kita sendiri dengan hal-hal yang jahat, hal-hal yang buruk, yang dapat melukai kehidupan kita. Kita akan melakukan hal terbaik untuk menjaga kehidupan kita.  

Namun eh namun, hehehe. So sad karena banyak orang menyia-nyiakan hidupnya untuk hal-hal yang jahat. Dan aku pernah berada di posisi itu, dimana aku menjalani kehidupanku sebagai seseorang yang tidak menghargai setiap hembusan nafas yang dianugerahkan kepadaku setiap harinya. Aku melakukan perbuatan-perbuatan tercemar tanpa menyadari bahwa aku sedang melukai diriku sendiri dan kehidupanku. Perbuatan-perbuatan tercemar tsb aku lakukan tidak hanya 1 tahun atau 2 tahun, tapi belasan tahun. Selama belasan tahun aku merasa bahwa aku sedang bersenang-senang, padahal yang aku lakukan adalah aku sedang melukai hidupku. 

Sampai di suatu malam aku mulai menyadari bahwa hidupku ternyata telah hancur. Hadiah yang diberikan ini telah ku rusak sedemikian rupa. Hal-hal yang dulu menurutku adalah kesenangan, sekarang aku sadar bahwa itu adalah kebodohan dan awal kehancuran. Aku telah bersalah pada diriku sendiri. Namun tidak ada yang terlambat. Aku bangkit dan aku mencoba minta maaf pada diriku sendiri. 

"Hai diriku, maafkan aku yang telah membawamu ke dalam kehancuran. Maafkan aku yang terlalu bodoh menganggap segala yang ku lakukan adalah kesenangan, padahal aku sedang melukaimu."

Ketika aku memafkan diriku sendiri, perlahan aku mulai mengasihi diriku sendiri, mengasihi kehidupanku, menghargai hidup yang sudah diberikan secara cuma-cuma. Lalu aku berbalik ke jalan yang seharusnya dan membawa hidupku ke tempat yang terang. Satu lagu terngiang di telingaku. "Hidupmu indah bila kau tahu, jalan mana yang benar". Dan lirik ini benar adanya. Ku perbaiki kehidupanku. Aku mulai melakukan hal-hal yang baik dan berguna baik bagi diriku sendiri maupun orang lain sampai aku merasa bahwa wow hidup ini beneran indah.

Dan kalau aku saat ini telah sampai di titik ini, titik dimana aku telah meninggalkan perbuatanku yang lama, percayalah semua karena kebaikan Tuhan. Saat ini pun aku tidak kemudian menjadi golongan orang suci. Bukan. Aku hanya golongan orang yang rindu untuk mengajakmu, ya kamu, untuk lebih menghargai hidupmu. Jangan lukai hidupmu. Jangan lukai dirimu. Berhentilah sekarang. Berbaliklah selagi masih ada kesempatan. Sekarang. Jangan ditunda-tunda. Esok hari kita tidak tau apakah mentari masih terbit lagi. Jika kau mengelak dan menganggap bahwa kau sedang menyenangkan dirimu sendiri dengan hal-hal cemar yang kau lakukan, hmm...ayolah, aku yakin dan percaya bahwa hati nuranimu tidak setuju. Sudah berapa kali kau menghiraukan hati nuranimu yang mengatakan "jangan lakukan itu," untuk setiap perbuatan buruk yang kau lakukan ? Semakin kau menolak suara itu, semakin suara itu akan hilang dari hatimu. Oleh karena itu, selagi suara kecil itu masih ada, walaupun kecil sekalipun, tapi jika masih ada, tolong dengarkan suara itu. Suara itu ada demi kebaikanmu.

Mari pandang hidup ini sebagai suatu anugerah, sebagai suatu hadiah. Hargai hidup ini, jaga dia, sayangi dia, lakukan yang terbaik dan yang berguna. Semangat. Tuhan memberkati.


Salam kasih,
Dari orang yang sudah diselamatkan.
         

Komentar